Waspada! Kini ChatGPT Mampu Buat Malware yang Tidak Bisa Terdeteksi

Sedang Trending 3 tahun yang lalu 91

Tren dari kecerdasan buatan yang dinamakan ChatGPT untuk saat ini tampaknya kebanyakan bisa memudahkan kehidupan manusia. Sampai pada akhirnya ada oknum jahat yang bisa memaksa kecerdasan buatan tersebut untuk menciptakan malware yang sama sekali tak dapat terdeteksi. Waduh, kok jadi gini?

Malware Buatan ChatGPT Sama Sekali Tidak Bisa Dideteksi
Squid Game MalwareMalware yang dapat berubah sesuka hati pastinya mengerikan

Umumnya, malware akan dapat dengan mudah terdeteksi oleh antivirus (minimal Windows Defender) untuk setidaknya dapat minimalisir hal yang tak diinginkan. Namun, lain halnya dengan malware yang dibuat oleh ChatGPT, yang mana sama sekali tak dapat terdeteksi bahkan oleh teknik keamanan terkuat, Endpoint Detection and Response (EDR).

Walau EDR merupakan teknik keamanan siber terkuat untuk saat ini, namun para pakar di bidangnya mengatakan bahwasanya menangkap malware yang dibuat dengan kecerdasan buatan akan cukup menantang karena teknik yang digunakan untuk saat ini tetap terhitung ‘konvensional’ dan belum mumpuni.

Melansir CSO, hal ini dikarenakan malware tersebut rupanya bukanlah malware ‘biasa’ yang kita temukan atau hadapi, namun dibuat, dan dirancang sedemikian rupa oleh kecerdasan buatan ChatGPT. Untuk menyiasati pendeteksian, malware tersebut bisa memutasikan dirinya sendiri untuk menjadi lebih kuat, membikin pendeteksian susah untuk dilakukan.

Memanfaatkan API dari Kecerdasan Buatan untuk Menciptakan Malware
Api Chatgpt Dimanfaatkan Untuk Membuat MalwareAPI yang dimanfaatkan oknum jahat

Kalau brott membuka laman ChatGPT, tentunya akan disodorkan apa-apa saja hal yang boleh dilakukan dengan kecerdasan buatan Open AI tersebut. Tampak pada bagian kanan, bahwa kecerdasan buatan ini dapat saja memberikan informasi yang kurang akurat, lakukan informasi dan rekomendasi berbahaya, dan pengetahuan yang dibatasi tiba akhir tahun 2021.

Namun, yang namanya oknum jahat, ada saja celah yang dimanfaatkan untuk membikin sesuatu yang merugikan, dalam kasus ini ialah malware. Di mana kecerdasan buatan ini dimanfaatkan Application Programming Interface (API)-nya untuk kemudian dimanfaatkan oknum jahat tersebut membikin malware tanpa harus terkena batasan.

Salah satu contohnya dapat kita temukan pada aplikasi yang dibuat pada Python dan sama sekali tak berbahaya, dapat melontarkan pertanyaan alias query melalui API kecerdasan buatan tersebut setiap kali apikasi tersebut dijalankan.

Yang artinya, aktivitas ini dilakukan tanpa harus dieksekusi terlebih dahulu, dan menghentikan ChatGPT dalam pemrosesannya. Melalui langkah ini pula, malware dapat diciptakan untuk lanjut bermutasi untuk menjadi semakin kuat dan susah untuk dideteksi bahkan oleh sistem terbaik sekalipun kecuali dengan donasi AI.

Sudah Mengintai Semenjak Awal Tahun 2023?
Black Mamba Malware Dari AiPotensi serangan kombinasi malware dan kecerdasan buatan

Terkait malware yang dapat bermutasi ini rupanya sudah diamati oleh pakar di bidangnya dari perusahaan HYAS InfoSec bernama Jeff Sims.

Di mana dirinya telah menerbitkan laporan terkait malware yang bisa bermutasi dinamakan Black Mamba, yang dapat kalian baca di sini. Lalui laporan yang ia kerjakan, ia bisa mendemonstrasikan bahaya dari kecerdasan buatan dalam membikin malware keylogger yang benar-benar susah untuk dideteksi oleh EDR.

Bahkan, dapat saja sudah ada yang lebih dahulu sukses menciptakan malware yang bisa bermutasi untuk kebutuhan pribadinya dan tak dapat terdeteksi oleh teknik keamanan terkini sekalipun.

Bila kalian membaca lebih lanjut, yang menjadi limitasi dari malware yang dibantu dengan ChatGPT hanya dibatasi oleh ‘kreativitas’ atau input yang dimiliki oknum tersebut. Alhasil, hal ini akan mendesak perusahaan keamanan siber untuk meningkatkan keamanan dengan donasi kecerdasan buatan untuk minimalisir hal yang tak kita inginkan.

Bantuan AI akan Dibutuhkan untuk Memperkuat Keamanan?
artificial intelligenceAkankah AI mempunyai peran untuk memberikan perlindungan ke depannya?

Bila berdasarkan fakta yang ada dan sudah terjadi di lapangan, termasuk banyak sekali kasusnya, tak menutup kemungkinan teknik keamanan siber akan membutuhkan donasi AI untuk bisa mendeteksi potensi yang mungkin saja terjadi.

Namun, hal ini akan cukup menantang, karena teknologi yang kita miliki saat ini tetap seumuran jagung, dan tetap terkatung-katung akan digunakan untuk apa dan benefitnya untuk umat manusia.

Walau memang kemampuan AI saat ini sudah dapat dikatakan cukup mengerikan, namun tampaknya tetap akan membutuhkan waktu untuk dapat diregulasi agar tak dimanfaatkan oleh orang yang salah ke depannya.

Baca juga informasi menarik lainnya terkait Tech atau artikel lainnya dari Bima. For further information and other inquiries, you can contact us via author@gamebrott.com