[Opini] Mengapa Headset Bluetooth Dianggap Kurang Bagus dari Headset Berkabel

Sedang Trending 3 tahun yang lalu 85

Headset Bluetooth – Di era sekarang ini, apa-apa yang dapat dibuat wireless akan dibuatkan versi wireless. Kita sebut saja mulai dari mouse, keyboard, speaker, dan bahkan headset sekali pun. Tidak jarang juga kalau printilan versi wireless ini sudah dapat menyaingi secara kualitas namun tetap punya drawback atau kelemahannya sendiri.

Terutama kalau kita bahas mengenai headset nirkabel yang belakangan ini tengah naik daun. Seiring dengan lumrahnya gawai pintar, pengguna juga merambah ke headset wireless lewat munculnya TWS yang mungil-mungil itu, otomatis peran Bluetooth sangatlah krusial sebagai jalur koneksi ke smartphone masa kini.

Headset Bluetooth, Teknologi Ajaib yang Bawa Masalah Baru
headset bluetoothHeadset Bluetooth

Walau memang tak dapat dibantah kalau teknologi Bluetooth ini ialah nyaris sebuah keajaiban dalam perkembangan teknologi nirkabel. Nyatanya dalam eksekusi di bumi konkret terkadang memicu berbagai masalah yang selama ini tak pernah hadir di headset berkabel.

Banyak yang mengeluhkan kalau masalah delay akan tetap signifikan kalau dibandingkan dengan headset berkabel yang pada hakekatnya tak ada delay sama sekali. Lalu muncullah sebuah konsensus kalau headset wireless seperti TWS itu tak cocok digunakan untuk menonton film atau bermain game, yang mana tiba detik ini tetap benar adanya.

Soal kualitas bunyi sekalipun, tak sedikit wireless headset yang memang terasa lebih inferior dibanding headset berkabel. Setidaknya dengan harga yang serupa, kita sudah dapat mendapatkan kualitas audio yang bagus kalau menggunakan headset wired. Tapi pertanyaan terbesarnya, kenapa hal ini terjadi demikian? 

Apakah headset Bluetooth akan selalu menjadi barang yang lebih jelek dan sudah tak ada waktu lagi untuk ‘taubat’? Penulis sih tetap optimis untuk hal ini dan artikel kali ini akan sedikit membahas soal kenapa hal ini dapat terjadi.

1. Dari Bobot Hingga Codec Bluetooth Pun Berpengaruh
headset bluetoothTWS

Padahal kalau kita pikir-pikir, headset wireless itu ialah sebuah teknologi masa depan yang sangat memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi penggunanya. Kita tak perlu lagi harus merapikan kabel yang kusut, tak perlu lagi terhalang oleh panjang kabel yang terbatas, sehingga kita dapat bebas beralih asal tetap dalam jangkauan jaringan nirkabel Bluetooth.

Hanya saja dengan begitu akan membawa masalah baru lainnya. Headset akan jadi lebih berat karena tambahan komponen baterai. Belum lagi karena itu kita harus sering melakukan pengecasan dan tak plug & play seperti headset berkabel.

headset bluetoothHeadset

Soal bunyi sendiri sangat bergantung dari transmisi yang dihadirkan oleh codec Bluetooth-nya. Karena sekarang ini teknologi codec pada Bluetooth saja sudah bermacam-macam dan tak semuanya diciptakan setara. Kalian mungkin mengenal SBC, AAC, aptX, aptX HD, dan LDAC yang baru-baru ini hadir. Menurut para manufaktur, semakin bagus codec yang dapat digunakan akan membikin bunyi yang dihasilkan sang headset jadi lebih bagus.

Singkatnya begini, sebuah file lagu mempunyai sejumlah data yang berisi informasi dari lagu tersebut mulai dari bunyi low, mid, dan high yang kemudian menjadi satu kesatuan lagu. Biasanya sebuah lagu di-mix dalam jarak frekuensi pendengaran orang adalah 20 hingga 20 ribu Hz. 

headset bluetoothTWS

Karena teknologi Bluetooth itu sangat mementingkan konsumsi daya yang mini maka tak banyak transmisi data yang dapat dilakukan dalam satu waktu. Otomatis yang perlu dilakukan oleh codec ialah mengkompres data di lagu tersebut agar dapat didengarkan secara mulus. Kelemahannya apa, ada bagian dari lagu tersebut yang lenyap karena pengaruh kompresi.

Hanya saja soal apakah kompresi data ini benar terasa oleh pengguna itu tetap diperdebatkan hingga saat ini di komunitas audio. Hingga muncullah perdebatan yang bersifat subyektif karena pendengaran dan kemanjaan kuping tiap orang berbeda-beda. Tapi, beberapa audiophile memang menganggap kalau ada detail yang lenyap dari headset Bluetooth.

2. Baterai dan Masalah Keawetan
headset bluetoothApple Airpods 3

Itu baru membahas soal suara, kita belum masuk ke durabilitas headset itu sendiri. Dalam penggunaan jangka panjang, kita tentu tahu kalau baterai ada masa pakainya dan perlu diganti setelah beberapa tahun. Mengerikannya ialah terkadang nyaris mustahil untuk mengganti baterai tersebut karena desain yang unibody atau disegel dengan lem super kuat.

Alhasil kalau sewaktu-waktu rusak, mau tak mau kita harus membeli baru karena headset wireless seperti Apple Airpods misalnya memang tak disarankan untuk diganti baterai dan langsung tukar unit baru. Hal ini selain menambah limbah elektronik tentu juga membikin pengguna harus menggelontorkan uang yang tak sedikit untuk membeli unit baru.

3. Latency yang Kurangi Kenyamanan
headset bluetoothHeadset nirkabel

Kalau soal latency sejatinya untuk pengguna awam yang memang tak bermain game dan hanya sekadar mendengarkan lagu saja, itu tak menjadi persoalan yang berarti namun, dibagian ini juga dijadikan salah satu kelemahan dari wireless headset yang sudah ada sejak awal.

Walau tak menutup kemungkinan nantinya bakal ada perubahan, untuk saat ini tetap jauh dari kata no delay meski kita membeli headset Bluetooth harga jutaan sekalipun.

Jadi itulah pembahasan kenapa headset Bluetooth selalu dianggap lebih inferior dibanding headset berkabel. Apakah kalian lebih pro terhadap wireless atau kabel?

Baca juga informasi menarik Gamebrott lainnya terkait Tech atau artikel lainnya dari Andi. For further information and other inquiries, you can contact us via author@gamebrott.com.