Beberapa hari yang lalu, tentunya kalian sudah mengetahui bujukan Komdigi agar masyarakat pindah, beralih gunakan ke eSIM, ‘kan? Hal tersebut dimaksudkan untuk memberikan lapisan keamanan tambahan bagi para pengguna agar terhindari dari hal-hal yang tak diinginkan, phishing misalkan.
Ibarat kutipan “modern problems require modern solutions,” seluruh permasalahan modern yang kita alami di era digital diharapkan akan dapat sirna dengan sendirinya setelah masyarakat sepakat untuk mengadopsi smartphone yang mendukung teknologi eSIM.
Sayangnya, “modern solutions” yang diwacanakan ini malah menimbulkan masalah baru di masyarakat. Sudah siapkah mereka mengadopsi smartphone dengan teknologi eSIM, dan apakah memang tak ada langkah lain selain eSIM untuk memberantas kejahatan bumi digital?
Lalui opini singkat kali ini, author akan mengajakmu membahas bujukan Komdigi yang belum lama ini memberikan imbauan kepada masyarakat agar berpindah untuk gunakan eSIM. Yuk, langsung saja kita bahas sama-sama.
Apa Itu eSIM?
Implementasi eSIM di Indonesia
Buat kalian yang belum tahu apa itu eSIM, singkatnya eSIM merupakan singkatan dari Embedded SIM Card yang merupakan jenis kartu SIM model terbaru yang ditanamkan langsung, atau diintegrasikan ke dalam sebuah smartphone.
Teknologi ini sebenarnya sudah diperkenalkan dari beberapa tahun yang lampau dan sudah pernah dibahas. Di mana smartphone iPhone 14 menjadi smartphone yang kala itu mengadopsi teknologi SIM yang terintegrasi ini. Hanya saja, kala itu belum ada banyak smartphone yang mendukung teknologi yang membebaskan smartphone dari kartu SIM fisik.
Tidak seluruh smartphone mendukung teknologi eSIM
Beberapa tahun setelahnya, kita dapat memandang bahwa teknologi eSIM sudah mulai menjamur dan merambah ke smartphone mid-range yang lebih besar kemungkinannya untuk diadopsi masyarakat.
Di tahun ini sendiri, sudah ada banyak smartphone mid-range yang telah mendukung eSIM agar dapat memberikan opsi atau kemudahan kepada para pengguna agar dapat memilih jenis kartu SIM yang mereka inginkan sesuai dengan kebutuhan. Alasan lain yang paling masuk akal ialah future-proofing agar mereka tak akan tertinggal jauh dari teknologi terbaru bila dibutuhkan.
Kenapa Komdigi Ajak Masyarakat untuk Gunakan eSIM?
Meutya Hafid selaku Komdigi mengusulkan perpindahan ke eSIM
Beberapa hari yang lalu, bujukan Komdigi agar masyarakat beralih untuk gunakan eSIM ini disebut dapat membantu pengguna agar terhindar dari masalah komunikasi yang kian meresahkan saja. Sebut saja phishing, spam, tiba judi online yang sangat susah ditemukan sumbernya dari mana.
Permasalahan komunikasi tersebut, tentu saja menjadi sorotan Komdigi yang ditugaskan untuk melindungi pengguna dari masalah komunikasi. Selain itu, Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital terkait pemanfaatan eSIM yang diwacanakan belum lama ini menjadi langkah preventif yang masuk akal dilakukan oleh salah satu instansi pemerintah tersebut.
Mengimbau masyarakat agar berpindah gunakan eSIM
Ajakan Komdigi agar masyarakat beralih gunakan eSIM nantinya akan didukung oleh operator seluler lokal, yang bertujuan untuk mengedukasi masyarakat guna mendukung Gerakan Nasional Kebersihan Data Digital. Tujuannya satu, merupakan membangun ekosistem digital yang aman, bersih, serta bertanggung jawab di Indonesia.
Bila kita teliti lebih lanjut, sebenarnya tak ada yang salah dengan langkah yang diambil oleh Komdigi. Hanya saja, mungkin akan terdapat beberapa permasalahan lain yang menghantui teknologi tersebut semisal masyarakat dipaksa melakukan migrasi dalam waktu cepat, diperparah dengan perekonomian yang lesu seperti saat ini.
Ajakan Komdigi Beralih Gunakan eSIM
Akankah smartphone dengan eSIM jadi prioritas masyarakat ke depannya?
Melanjutkan dua poin sebelumnya, bujukan Komdigi agar masyarakat mau berpindah dari kartu SIM konvensional menjadi eSIM ini pastilah akan memunculkan tantangan baru. Pertama, siapkah masyarakat Indonesia untuk menyisihkan tabungannya hanya untuk “sekadar” embel-embel keamanan komunikasi di mana kebutuhan lain saat ini mungkin lebih mendesak?
Walau terdengar remeh, tetapi faktanya tak seluruh orang bakal memedulikan hal tersebut karena berbagai unsur loh, brott. Salah satu unsur yang mempengaruhinya ialah tetap mahalnya harga smartphone yang mendukung teknologi tersebut. Ya kali hidup lagi susah-susahnya, malah dipaksa beli smartphone 5-10 Jutaan hanya demi keamanan komunikasi digital?
Oleh karena itu, dalih ini dipastikan akan membikin implementasi eSIM sebagai standarisasi terbaru di Indonesia akan mengalami keterlambatan dalam beberapa tahun mendatang, atau bahkan lebih semisal perekonomian tanah air tak membaik, serta brand smartphone tak aktif menawarkan smartphone dengan teknologi eSIM dengan harga terjangkau.
Harga smartphone denga eSIM tetap terlampau mahal
Poin kedua adalah, permasalahan komunikasi digital tak sepenuhnya harus mengandalkan masyarakat hanya demi membasminya. Simpelnya begini, bukankah hal tersebut merupakan tugas dari instansi terkait untuk menelusuri bermacam kejahatan di bumi digital, termasuk permasalahan komunikasi yang meresahkan?
Alih-alih memaksakan standarisasi yang menurut author memberatkan masyarakat karena unsur yang telah disebutkan di atas, ingatlah satu fakta lain bahwa perekonomian setiap daerah tak akan sama. Yah, mereka yang “YJJA” mungkin tak akan merasa kesulitan membeli smartphone tersebut. Tetapi, bagaimana dengan daerah lain di Indonesia?
Intinya, meski bujukan Komdigi agar masyarakat berpindah gunakan eSIM dapat menjadi solusi mudah, tetapi instansi tersebut juga harus mempertimbangkan unsur lain yang mungkin mempengaruhi percepatan dari standarisasi eSIM di Indonesia. Kalau menurut kalian sendiri gimana, brott?
Baca juga informasi menarik Gamebrott lainnya terkait Tech atau artikel lainnya dari Bima. For further information and other inquiries, you can contact us via author@gamebrott.com.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·